Belajar Soal Panas Bumi, ForMeci Jambi Kunjungan ke Rumah Kolaborasi Lampung

0
159
Kunjungan ForMeci
Forum Energi Merangin-Kerinci (ForMeci)-forum yang berisi Civil Society Organization (CSO) dan Community Based Organization (CBO) di Provinsi Jambi yang fokus pada isu energi terbarukan, melakukan kunjungan ke Rumah Kolaborasi (RuKo), Lampung, guna belajar soal energi panas bumi, didampingi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi (Warsi) berlangsung di Wisma Universitas Lampung (Unila), di Bandarlampung, Jumat, 28 Mei 2021.

Indonesia hingga saat ini masih menghadapi tantangan dalam penyediaan energi yang terjangkau, andal, dan bersih.

Ketergantungan pada sumber energi fosil saat ini tak hanya menambah beban biaya energi, namun juga memperburuk kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat akibat dampak pembangunan energi fosil.

Karena itu, Forum Energi Merangin-Kerinci (ForMeci)-forum yang berisi Civil Society Organization (CSO) dan Community Based Organization (CBO) di Provinsi Jambi yang fokus pada isu energi terbarukan, melakukan kunjungan ke Rumah Kolaborasi (RuKo), Lampung, guna belajar soal energi panas bumi.

Pertemuan awal tim ForMeci didampingi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi (Warsi) berlangsung di Wisma Universitas Lampung (Unila), di Bandarlampung, Jumat, 28 Mei 2021.

Energi panas bumi (geothermal energy) sebagai salah satu energi baru terbarukan (EBT) yang lebih ramah lingkungan, memiliki potensi cukup baik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat di Jambi, sehingga perlu belajar dari Lampung yang telah mengembangkan energi panas bumi tersebut.

Selain, dimanfaatkan secara tak langsung sebagai pembangkit listrik, panas bumi juga bisa dimanfaatkan secara langsung guna mendukung usaha komoditas perkebunan dan pertanian di antaranya pengeringan kopi, pala, cengkeh, dan komoditas lainnya.

Perwakilan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi bersama beberapa kepala desa di daerah Merangin serta perwakilan masyarakat adat Marga Serampas yang tergabung dalam ForMeci dari Jambi hadir dalam kegiatan itu.

Neldy Savrino, dari KKI Warsi, mengatakan ada potensi cukup besar di Jambi untuk energi terbarukan, salah satunya panas bumi. Namun, belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Jadi, tujuan kita ke sini (Lampung), untuk membuka wawasan masyarakat sekaligus belajar bagaimana pemanfaatan panas bumi,” kata Neldy.

Sehingga, lanjut Neldy, potensi yang besar itu bisa dimanfaatkan. “Setidaknya ini bisa menyadarkan masyarakat untuk mendukung program pemerintah beralih dari energi fosil ke energi yang lebih bersih,” ujar Neldy lagi.

Kunjungan tersebut akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

Rangkaian kegiatan acara diisi dengan diskusi dan terjun ke lapangan untuk melihat langsung pemanfaatan panas bumi di Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Nantinya, mereka akan belajar lebih dalam terkait panas bumi dari segi pemanfaatan dan kebijakan terkait dengan pengusahaannya.

Sairin (50), perwakilan masyarakat adat Marga Serampas, mengaku tercerahkan dengan adanya kunjungan belajar tersebut.

Sairin berharap, apa yang telah dilaksanakan di Lampung dapat diimplementasikan di daerahnya.

“Semoga setelah kunjungan ini, ada yang dapat kami serap dan memberi manfaat bagi masyarakat adat di tempat kami,” kata Sairin.

Budisantoso Budiman, pegiat RuKo menilai potensi panas bumi di Indonesia cukup besar.

Menurutnya, Indonesia masuk salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Sedangkan, Provinsi Lampung masuk 3 besar secara nasional.

“Namun, belum maksimal pemanfaatannya,” ujar Budisantoso, saat diskusi melalui zoom meeting bersama peserta yang berada di Wisma Unila itu pula.

Menurut Budisantoso yang sehari-hari adalah Editor di Perum LKBN ANTARA Biro Lampung itu, jika terjadi penolakan oleh masyarakat dalam pengembangan potensi panas bumi itu, bisanya karena ada ketakutan dari masyarakat setempat terkait dampak eksplorasi dan eksploitasi panas bumi.

“Padahal sebenarnya lebih banyak manfaat yang akan didapatkan, jika panas bumi dikelola dengan benar, dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” ujar Budisantoso lagi.

Kegiatan ini terselenggara melalui Program “Leading the Change (LTC): Civil Society, Rights & Environment – Sustainable Renewable Energy” WWF Indonesia atas dukungan SIDA dan WWF Swedia yang berkomitmen untuk melakukan kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat sipil sebagai pemimpin perubahan dalam rangka mendukung pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Program diimplementasikan di empat provinsi, yaitu Aceh, Jambi, Lampung, dan Kalimantan Utara. Dalam pelaksanaan program, NGO bersama masyarakat di empat provinsi itu pun membentuk Forum Energi Terbarukan, untuk dapat saling bertukar informasi, pengalaman, dan resolusi bersama atas potensi dan permasalahan dalam pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan secara kolaboratif.

TIDAK ADA KOMENTAR