Kolaborasi Dalam Pemanfaatan Langsung Panas Bumi di Lampung

0
240
Webinar AJI-RUKO
The third webinar was held by the House of Collaboration (RUKO) and the Alliance of Independent Journalists (AJI) in Bandarlampung, Saturday (8/8/2020). The web seminar was entitled "Utilization of Geothermal Energy for Agribusiness".

RUMAHKOLABORASI.OR.ID — Pemanfaatan energi panas bumi masih sebatas pemanfaatan tak langsung (indirect use), seperti pembangkit listrik. Sedangkan pemanfaatan langsung (direct use) untuk kebutuhan pengembangan agribisnis, seperti pengeringan kopi, cengkih, dan gula aren masih terbilang jarang. Padahal, potensi pemanfaatan panas bumi itu terbilang besar untuk mengembangkan sektor agribisnis, khususnya di Lampung.

Permasalahan itu terungkap dalam webinar ketiga yang diadakan oleh Rumah Kolaborasi (RUKO) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandarlampung, Sabtu (8/8).

Web seminar bertajuk “Pemanfaatan Energi Panas Bumi untuk Agribisnis” itu, dipandu jurnalis Tribun Lampung Yoso Muliawan dengan empat narasumber.  Keempatnya adalah pegiat RUKO Zulfaldi, Advisor RUKO Abimanyu, General Manager PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ulubelu Lampung Mawardi Agani, dan Supervisor External Relations PGE Ulubelu Arif Mulizar.

“Sampai saat ini implementasi pemanfaatan energi panas bumi untuk agribisnis hanya sebatas corporate social responsibility (CSR). Jadi, hanya sebatas percontohan bahwa panas bumi bisa dimanfaatkan untuk sektor agribisnis,” kata GM PT PGE Ulubelu Mawardi Agani.

Dia mengatakan, PGE Ulubelu masih terfokus pada pengelolaan energi panas bumi tak langsung sebagai energi pembangkit listrik. Meski hanya sebatas CSR, alat pengering kopi berbasis energi panas bumi yang disediakan PGE Ulubelu memiliki manfaat bagi petani kopi setempat.

“Untuk pengeringan kopi dengan sinar matahari bisa memakan waktu 1-2 minggu. Jika menggunakan panas bumi ini hanya membutuhkan waktu dua hari, sehingga lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Menurut Supervisor External Relations PGE Ulubelu Arif Mulizar, meskipun sudah ada peralatan sebagai percontohan terkait pemanfaatan panas bumi untuk agribisnis, namun masih belum maksimal. Kurangnya edukasi terhadap petani dan kendala teknis untuk pemakaian membuat alat tersebut relatif jarang digunakan oleh petani.

“Kendalanya adalah kurangnya edukasi terhadap petani dan lokasi percontohan yang sulit dijangkau, serta diperlukan alat pelindung diri (APD) untuk menjangkau lokasi, sehingga petani merasa kesulitan untuk memanfaatkan fasilitas tersebut,” kata dia lagi.

Advisor RUKO, Abimanyu berpendapat, harus ada perhatian pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan panas bumi.

Dia menawarkan skema kolaborasi, yaitu kolaborasi antara pengembang dan masyarakat yang dimoderasi oleh pemerintah, sehingga pemanfaatan panas bumi tidak hanya sebatas CSR dan riset, namun bisa menjadi skala industri guna kesejahteraan masyarakat.

“Jadi, bagaimana caranya pengembang dan masyarakat yang dimoderasi pemerintah saling berkolaborasi untuk mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi untuk agribisnis guna kesejahteraan rakyat,” ujarnya pula.

“Karena, dengan skala pilot project sudah efisien dan efektif, maka dengan skala yang lebih besar tentu akan menguntungkan untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Abimanyu.

Pegiat RUKO, Zulfaldi menambahkan, pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor agribisnis dapat melalui badan usaha milik antardesa (BumaDes), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sebab, pengembang dalam hal ini PGE Ulubelu, masih terfokus pemanfaatan energi panas bumi untuk listrik, sehingga BumaDes, Gapoktan, KPH, dan BUMD bisa menjadi solusi sebagai pihak yang mengelola energi panas bumi dari pengembang untuk kebutuhan agribisnis.

Webinar AJI-RUKO
Suasana Webinar “Pemanfaatan Energi Panas Bumi untuk Agribisnis” di Rumah Belajar, Bandarlampung, Sabtu (8/8/2020) dok. AJI Bandarlampung

TIDAK ADA KOMENTAR