Sri Wahyuni, perempuan petani kopi Ulubelu dorong pemberdayaan perempuan Ngarip

0
294
Sri Ngarip Ulubelu
Sri Wahyuni Ketua KSU Srikandi, Pekon Ngarip, Ulubelu, Tanggamus, Lampung

Banyak perempuan pemimpin telah berjuang untuk mendukung keluarga, organisasi, atau komunitas mereka melalui krisis pandemi global COVID-19 yang sedang kita hadapi.

Salah satu mitra Rumah Kolaborasi (Ruko), The Rainforest Alliance (RA), juga mendukung kemajuan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender, dan dalam pekerjaan mereka, organisasi global ini telah menyaksikan kehadiran perempuan pemimpin yang menginspirasi.

Pada tahun lalu, semakin banyak contoh perempuan yang berdiri sebagai pemimpin untuk mendukung keluarga, organisasi, dan komunitas mereka.

Sebagai penghargaan pada acara Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day yang diperingati 8 Maret, The Rainforest Alliance menyoroti beberapa kisah inspirasi perempuan pemimpin di dunia, sejalan dengan tema UN Women 2021 “Women in leadership: Achieving an equal future in a COVID-19 world”, termasuk Sri Wahyuni dari Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Berikut kisahnya.

Sri Wahyuni (46) adalah seorang perempuan petani kopi tinggal di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Pada tahun 2015, berawal dari inisiatif di lingkungannya sendiri, Sri mendirikan Koperasi Simpan Usaha (KSU) Srikandi, didukung beberapa perempuan lain setempat bersama mitra NGO Perkumpulan Rumah Kolaborasi. KSU ini sekarang sudah beranggotakan 235 perempuan, semuanya adalah petani kopi.

Sri terpilih menjadi ketua koperasi. Sri berpartisipasi dalam pelatihan the Rainforest Alliance yang diadakan melalui sekolah lapang petani setempat.

Begitulah cara ia menjadi tahu tentang praktik pertanian yang baik atau manajemen pertanian yang baik, lalu belajar mengelola keuangan.

Dia juga mengikuti sejumlah pelatihan pengelolaan usaha kelompok termasuk pelatihan dan pendampingan terkait Gender Action Learning System (GALS) atau Sistem Pembelajaran Aksi Gender, dan dari situlah ia belajar bagaimana meningkatkan pengambilan keputusan setara di tingkat rumah tangga.

Setelah mendapatkan pelatihan, Sri melatih ibu-ibu di sekitarnya membantu mereka menjadi lebih baik dalam bertani dan menjadi mandiri. Hingga keanggotaan KSU Srikandi terus berkembang. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan dari para perempuan petani kopi. Apalagi semula, ketika mendirikan kelompok usaha perempuan ini kerap dicemooh dan diejek di kampung mereka sendiri.

Kelompok Simpan Usaha (KSU) Srikandi yang dibentuk 2 Agustus 2015, di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, semula boleh jadi tak diperhitungkan.

Namun kerja keras bertahun-tahun itu, dimotori Sri dkk, akhirnya menjadi salah satu kekuatan penopang ekonomi warga setempat. Semula anggotanya hanya 18 orang mayoritas kaum perempuan, kemudian berkembang menjadi hampir 300 orang, hanya 20 orang di antaranya laki-laki. Modal usaha saat berdiri hanya Rp9.750.000, kemudian berkembang menjadi hingga Rp600 juta, dengan perputaran dana dari tahun 2015 sampai dengan 2019/2020 mencapai Rp2,6 miliar.

“Sebagai seorang pelatih, saya selalu menceritakan kisah-kisah pribadi saya kepada mereka, saya berbagi dengan mereka kesuksesan dan kegagalan saya, dan saya memberi mereka fakta, karena itu lebih bermanfaat, dari situ saya bisa mendapatkan kepercayaan mereka,” ujar Sri.

Sri melatih para perempuan untuk menjadi petani kopi yang lebih baik dan terutama menjadi lebih baik dalam pengolahan kopi robusta, antara lain menjadi kopi bubuk yang bernilai jual tinggi sesuai permintaan pasar/pesanan, menambah nilai kopi mereka melalui pemasaran yang terus diperluas. Pada awalnya, sejumlah dana yang dibutuhkan untuk pelatihan berasal dari tabungan dirinya dan para perempuan anggota koperasi tersebut.

Melalui pelatihan dan pembinaan Sri bersama para pengurus koperasi itu (di antaranya Srek Wiyati, Yuliasih, Melly Sugiarti, Ramiasih, Indriyani, dll), para ibu warga setempat mulai meningkatkan produksi kopinya, kualitas biji kopi mereka meningkat dan mereka belajar bagaimana berhemat. Dari uang itu dan juga dana bantuan dari LSM lainnya, KSU Srikandi membeli mesin pengolah kopi sendiri.

Sri juga berusaha keras untuk mendidik dan mendorong perempuan untuk menabung setelah panen, sehingga mereka memiliki uang ketika masa sulit, seperti saat paceklik atau krisis, mereka punya uang untuk mengatasi masa sulit itu. Sehingga petani kopi tidak mengutang kepada tengkulak ketika paceklik.

Dia juga mempromosikan lebih banyak menanam sayuran untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga di daerahnya.

Dia adalah penggerak setelah pembukaan koperasi simpan usaha bagi perempuan untuk membantu akses keuangan bagi perempuan. Diakuinya penjualan kopi bubuknya menurun akibat krisis COVID-19, namun simpan hasil usaha dan tabungan yang diperoleh anggota tahun 2020 justru meningkat.

Pada peringatan hari ibu tahun lalu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung memberikan penghargaan kepada Sri sebagai Perempuan Inisiator penggerak UMKM kopi Ulubelu, dan penggagas koperasi simpan usaha yang membuka akses modal usaha rumahan bagi perempuan petani di Ulubelu, Tanggamus.

Saat ditanya impiannya untuk tahun mendatang, “Saya ingin kopi dari koperasi kami dikenal sampai luar negeri, dan dukungan dari mitra terus menerus untuk mewujudkan impian kami”.

Bermodal ketekunan, kegigihan, keuletan, kesabaran, perlahan tapi pasti cemooh dan cacian yang Sri dkk alami berubah menjadi dukungan. Tranparansi dalam pengelolaan organisasi, khususnya keuangan, mendorong warga terutama kaum perempuan kemudian berombongan bergabung ke dalam KSU Srikandi sehingga anggotanya makin berkembang serta simpanan pun terus bertambah. Kepercayaan tumbuh antara lain karena dukungan komunikasi yang lancar dan baik di antara para pengurus dengan anggota dan warga setempat. Mereka pantang berbisik-bisik atau menggunjung lagi, semua pertanyaan dan masalah dibawa ke dalam forum bersama untuk mendapatkan jawaban dan penjelasan secara gamblang.

Sri dkk dengan Srikandinya, dalam skala kampung telah menunjukkan bahwa kaum perempuan mampu berdikari dengan menghimpun bersama potensi diri dan sumber daya yang dimiliki di sekitar mereka. Kelompok usaha kopi dengan koperasi yang telah berkembang diusahakan mereka, kini dapat bersaing dengan lembaga keuangan bank maupun lembaga keuangan modern lainnya yang juga tumbuh dan invasif masuk ke Pekon (Desa) Ngarip di Ulubelu ini. Namun bermodal kepercayaan diri dan dukungan pada anggota, mereka tak merasa khawatir atas semua itu.

Harapannya kaum perempuan ini dapat terus memajukan kelompok usaha berbasis budi daya pengolahan kopi yang ditopang mayoritas kaum perempuan setempat ini, akan terus tumbuh dan berkembang membangun kemandirian ekonomi dan berdampak sosial signifikan bagi warga setempat dan lingkungan sekitarnya.

Sri Wahyuni (kiri) bersama Pengurus KSU Srikandi

***) The Rainforest Alliance Indonesia menjadi mitra Rumah Kolaborasi (Ruko) bersama WWF Indonesia dan Yayasan Climate and Society dalam Program Sector Partnerships, proyek Sustainable Coffee Action in the Landscape of Bukit Barisan Selatan National Park (SCALA BBS). Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan aksi multipemangku kepentingan menuju praktik kopi berkelanjutan dan keanekaragaman hayati di area penyangga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

 

TIDAK ADA KOMENTAR