Webinar AJI Bandarlampung-RUKO: Kopi Menurut Milenial di Lampung

0
164
webinar AJI-RUKO
Web seminar series-4 held by the House of Collaboration (RUKO) and Independent Journalists Alliance (AJI) Bandarlampung, entitled "Coffee in the Eyes of Millennials in Lampung", Saturday (August 8, 2020).

Saat ini, kopi menjadi bagian dari gaya hidup milenial, ditunjukkan dengan semakin menjamurnya kedai-kedai kopi.

Karena itu, untuk mendukungnya, masyarakat di Lampung harus mengampanyekan kopi lokal yang sangat memungkinkan untuk menjadi kopi single origin, di antaranya Kopi Ulubelu, Kopi Tanggamus, dan Kopi Lampung Barat.

“Minimal kedai-kedai kopi di Lampung sudah menyerap dan mengenalkan kopi lokal. Sebab, salah satu kopi lokal yang unik dan tidak bisa ditemukan di daerah lain, seperti Kopi Ulubelu terdapat rasa gula merah yang berasa manis dan cocok sekali untuk dibuatkan kopi susu,” kata Romi Aprilyansa, pengusaha kopi sekaligus pemilik Rumah Belajar Kopi Beloe dalam web seminar (webinar) seri-4 yang diadakan oleh Rumah Kolaborasi (RUKO) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) BandarLampung bertajuk “Kopi di Mata Milenial Lampung”, Sabtu (15/8/2020).

Webinar itu dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) UPKM Teknokra Universitas Lampung (Unila) Mitha Setianiasih, dengan empat narasumber, yakni Romi Aprilyansa, Sekretaris AJI Bandarlampung Dian Wahyu Kusuma, Ganang Ardis Elfiando (pegiat Komunitas Revolusi Kopi-Rekolupi), dan Eko Prasetya Juliana (Ketua Gapoktan Mandiri Lestari).

Romi mengatakan, tren kopi saat ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap konsumsi kopi. Di Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia, konsumsi kopi hanya sebanyak 1,1 kg per kapita per tahun.

“Agak memprihatinkan karena kita sebagai penghasil kopi terbesar, tetapi konsumsi masih kecil dan menurut Kementerian Pertanian konsumsi kopi di Indonesia yang sangat tinggi pada 2017-2018. Setelah itu, sampai tahun ini pertumbuhan konsumsi kopi tidak naik signifikan,” ujarnya.

Menurut Ganang Ardis, pegiat Komunitas Rekolupi, tren kopi arabika yang berasal dari luar Lampung lebih mendominasi, seperti kopi gayo, kopi kerinci, dan sebagainya.

“Keterbatasan informasi soal pengenalan kopi di Lampung menjadi salah satu penyebab ketidaktahuan masyarakat terhadap kopi robusta terbaik dan terbesar di Indonesia,” kata dia lagi.

Ganang menilai, peminat kopi lokal di kedai-kedai kopi Lampung belum begitu banyak.

Mereka cenderung menyukai kopi dari luar Lampung. Karena itu, perlu melakukan inovasi, seperti membuat kopi dengan cita rasa yang berbeda dengan menggunakan kopi Lampung.

“Dari 10 orang konsumen kopi di kedai kopi, paling hanya satu sampai dua konsumen yang membeli kopi robusta Lampung, dan kebanyakan membeli kopi seperti kopi gayo dan lainnya,” ujarnya pula.

Dia berharap, para pegiat kopi dapat membuat kopi dengan inovasi terbaru, sehingga bisa menarik peminat kopi, terutama generasi milenial.

Eko Prasetya Juliana (Ketua Gapoktan Mandiri Lestari, Tanggamus) menyatakan, generasi milenial jangan hanya mengikuti tren kopi dan menjadi konsumen semata.

Menurutnya, mereka perlu mengetahui pengolahan kopi, sehingga generasi milenial bisa memahami produksi dan distribusi kopi.

“Ketika anak-anak muda hanya bergumul di industri hilir dan tidak di industri hulu, tak menutup kemungkinan kopi akan punah. Padahal, menjadi petani kopi banyak yang sukses,” kata dia pula.

Eko menambahkan, generasi milenial harus lebih memahami bahwa kualitas kopi berbeda-beda. Kemudian, menjadikan kopi itu sebuah kebutuhan sehari-hari dengan takaran yang sesuai.

“Tren kopi saat ini untuk generasi milenial harus lebih peduli terhadap kualitas kopi dan tidak ikut-ikutan saja untuk tertarik mengonsumsi kopi,” ujarnya.

Sementara itu, Dian Wahyu Kusuma, jurnalis Lampung Post yang juga Sekretaris AJI Bandarlampung mengatakan bahwa pemberitaan komoditas kopi masih minim.

Untuk itu, perlu peran jurnalis dalam mengampanyekan kopi Lampung di kalangan milenial. Dia berharap, peran media lebih masif lagi.

“Seperti mengikuti webinar, pelatihan, dan fellowship menjadi jalan untuk meliput ihwal kopi,” kata Dian pula.

webinar AJI-RUKO
Berfoto bersama usai webinar RUKO-AJI Bandarlampung.

TIDAK ADA KOMENTAR